DUL
DUL,
itulah nama yang tidak asing lagi di telinga kita, bahkan selalu menghiasi media media cetak maupun
elektronik. Nama itu beberapa waktu yang lalu sempat menghebohkan dunia peran orang
tua dalam keluarga. Dan berita ini di ekspos secara bergelombang oleh media-media
di seluruh Indonesia. Lalu timbul pertanyaan dalam benak sebagian masyarakat,
siapa Dul ini? Namanya tiba-tiba muncul diberbagai media informasi nasional dan
internasional, sehingga ia (Dul) menjadi trend topik yang tiba-tiba dapat
mengalahkan kasus-kasus mega korupsi yang sudah menjadi rutinitas santapan pokok
media massa Indonesia di era sekarang ini.
Dul,
adalah nama panggilan dari seorang Abdul Qadir Jaelani (AQJ), anak ke 3 dari
pasangan musisi terkenal Indonesia, yaitu Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Lalu
kenapa nama Dul ini menjadi trend topic di berbagai media massa? Apakah ini ada
hubungannya dengan perceraian Dhani dengan Maia? Jawabannya tentu tidak, karena
yang menjadikan nama Dul menjadi hot news
dalam beberapa pekan ini adalah kasus kecelakaan mobil di jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) yang merenggut 7 nyawa dan
melukai beberapa orang lainnya. Lalu ada sebagian masyarakat hanya menganggap
ini adalah kasus biasa yang sering terjadi di Indonesia, sebut saja kasus
kecelakaan di Tugu Tani di awal tahun 2012 lalu yang merenggut 9 nyawa dan
beberapa lainnya luka parah. Namun, kasus biasa ini menjadi luar biasa ketika
masyarakat mengetahui fakta bahwa sang aktor penyebab kecelakaan maut ini adalah seorang
anak berusia 13 tahun.
Semua
masyarakat pun kembali dikejutkan dengan suatu kenyataan yang luar biasa, bahwa
seorang anak 13 tahun, sudah menyetir mobil di malam hari dan sah secara
perizinan alias mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi). Kasus ini tidak hanya sebatas
masalah umur dan izin mengemudi saja, karena pertanggung jawaban ini mutlak di kirimkan
kepada sang penganggung jawab yaitu Ahmad Dhani, yang setelah perceraiannya
dengan Maia, hak asuh anak dikuasai oleh Dhani, walaupun tanggung jawab moril
ditanggung secara bersama- sama.
Media
massa tidak hanya sebatas memberikan informasi, memaparkan kenyataan atau juga
fakta, tapi juga media massa erat hubngannya dengan kontrol sosial dalam
masyarakat. Bukankah kejadian Dul ini adalah salah satu bukti akan kelalaiannya
peran orang tua dalam menjaga anaknya, bukankah fungsi keluarga proteksi dan
sosialisasi adalah inti dalam keluarga. Kontrol sosial oleh media massa disini
adalah peran dalam menjaga keaktifan fungsi keluarga secara menyeluruh dengan
cara memaparkan dan menginformasikan dampak dari tidak efektifnya fungsi dalam
keluarga, sehingga memberikan kesadaran bagi masyarakat secara umum untuk mampu
memnjalankan fungsi keluarga secara menyeluruh.
Tragedi
kecelakaan ini yang dilatar belakangi oleh disfungsinya peran orang tua dalam
keluarga dapat dijadikan contoh dan bukti oleh masyarakat dengan perantara
media- media, bisa kita bayangkan ketika media massa di kekang untuk mengekpos
masalah ini, sungguh akan banyak lagi kisah “Back to Dul”l dan memakan jumlah korban yang lebih banyak tentunya.
Setidaknya, dengan pemberitaan dari media massa ini, dapat mengurangi jumlah
kecelakaan dan kembali bisa memupuk tingkat kesadaran orang tua terhadap anak-anaknya
terutama dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga. Di zaman sekarang ini yang
serba tergantung dengan teknologi, media massa seharusnya mampu menyusup hingga
ke bagian unit terkecil dalam masyarakat, dan menghilangkan label bahwa media
massa di Indonesia sekarang ini adalah media politik (walaupun ada beberapa
media cetak dan elektronik yang sekarang ini dikuasai oleh elit-elit politik).
Namun, hal ini setidaknya bisa diredam dengan pemberitaan-pemberitaan yang bisa
menjadikan masyarakat sadar akan nilai- nilai dan norma- norma, bahkan ini
hanya sebatas kasus Dul sekalipun.
-->
0 komentar:
Posting Komentar