Flashy Colorful Pink Yellow Green Star -->

Jumat, 01 November 2013

Esay!

Diposting oleh Maya Hu di 02.03

DUL
DUL, itulah nama yang tidak asing lagi di telinga kita, bahkan  selalu menghiasi media media cetak maupun elektronik. Nama itu beberapa waktu yang lalu sempat menghebohkan dunia peran orang tua dalam keluarga. Dan berita ini di ekspos secara bergelombang oleh media-media di seluruh Indonesia. Lalu timbul pertanyaan dalam benak sebagian masyarakat, siapa Dul ini? Namanya tiba-tiba muncul diberbagai media informasi nasional dan internasional, sehingga ia (Dul) menjadi trend topik yang tiba-tiba dapat mengalahkan kasus-kasus mega korupsi yang sudah menjadi rutinitas santapan pokok media massa Indonesia di era sekarang ini.
Dul, adalah nama panggilan dari seorang Abdul Qadir Jaelani (AQJ), anak ke 3 dari pasangan musisi terkenal Indonesia, yaitu Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Lalu kenapa nama Dul ini menjadi trend topic di berbagai media massa? Apakah ini ada hubungannya dengan perceraian Dhani dengan Maia? Jawabannya tentu tidak, karena yang menjadikan nama Dul menjadi hot news dalam beberapa pekan ini adalah kasus kecelakaan mobil di jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) yang merenggut 7 nyawa dan melukai beberapa orang lainnya. Lalu ada sebagian masyarakat hanya menganggap ini adalah kasus biasa yang sering terjadi di Indonesia, sebut saja kasus kecelakaan di Tugu Tani di awal tahun 2012 lalu yang merenggut 9 nyawa dan beberapa lainnya luka parah. Namun, kasus biasa ini menjadi luar biasa ketika masyarakat mengetahui fakta bahwa sang aktor  penyebab kecelakaan maut ini adalah seorang anak berusia 13 tahun.
Semua masyarakat pun kembali dikejutkan dengan suatu kenyataan yang luar biasa, bahwa seorang anak 13 tahun, sudah menyetir mobil di malam hari dan sah secara perizinan alias mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi). Kasus ini tidak hanya sebatas masalah umur dan izin mengemudi saja, karena pertanggung jawaban ini mutlak di kirimkan kepada sang penganggung jawab yaitu Ahmad Dhani, yang setelah perceraiannya dengan Maia, hak asuh anak dikuasai oleh Dhani, walaupun tanggung jawab moril ditanggung secara bersama- sama.
Media massa tidak hanya sebatas memberikan informasi, memaparkan kenyataan atau juga fakta, tapi juga media massa erat hubngannya dengan kontrol sosial dalam masyarakat. Bukankah kejadian Dul ini adalah salah satu bukti akan kelalaiannya peran orang tua dalam menjaga anaknya, bukankah fungsi keluarga proteksi dan sosialisasi adalah inti dalam keluarga. Kontrol sosial oleh media massa disini adalah peran dalam menjaga keaktifan fungsi keluarga secara menyeluruh dengan cara memaparkan dan menginformasikan dampak dari tidak efektifnya fungsi dalam keluarga, sehingga memberikan kesadaran bagi masyarakat secara umum untuk mampu memnjalankan fungsi keluarga secara menyeluruh.
Tragedi kecelakaan ini yang dilatar belakangi oleh disfungsinya peran orang tua dalam keluarga dapat dijadikan contoh dan bukti oleh masyarakat dengan perantara media- media, bisa kita bayangkan ketika media massa di kekang untuk mengekpos masalah ini, sungguh akan banyak lagi kisah “Back to Dul”l dan memakan jumlah korban yang lebih banyak tentunya. Setidaknya, dengan pemberitaan dari media massa ini, dapat mengurangi jumlah kecelakaan dan kembali bisa memupuk tingkat kesadaran orang tua terhadap anak-anaknya terutama dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga. Di zaman sekarang ini yang serba tergantung dengan teknologi, media massa seharusnya mampu menyusup hingga ke bagian unit terkecil dalam masyarakat, dan menghilangkan label bahwa media massa di Indonesia sekarang ini adalah media politik (walaupun ada beberapa media cetak dan elektronik yang sekarang ini dikuasai oleh elit-elit politik). Namun, hal ini setidaknya bisa diredam dengan pemberitaan-pemberitaan yang bisa menjadikan masyarakat sadar akan nilai- nilai dan norma- norma, bahkan ini hanya sebatas kasus Dul sekalipun.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Big Dreams Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea