TERSESAT DI
DUNIA JURNALISTIK
Tak
tau harus mulai darimana, dan aku gak tau ini kesalahan tanganku atau kesalahan
otakku berpikir tentang Ilmu Komunikasi, atau mungkin ini kata hatiku yang
memberi isyarat kepada otak, kemudian otak merespon dan tanpa sengaja tanganku
mengklik jurusan Ilmu Komunikasiketika memilih jurusan pada SNMPTN undangan 2
tahun silam. Semula ku kira, Ilmu
Komunikasi sama seperti Sistem Informasi. Setelah aku ngisi KRS dan ku liat
semua bidang study nya tidak ada yang berhubungan dengan TI.
Aku curiga! Apa aku
salah jurusan? Oh... mungkin karna baru awal semester jadi pelajarannya belum
ada yang mengarah ke TI.
Setelah 2 semester ku lalui, ternyata benar
aku salah jurusan. Tapi aku merasa enjoy dijurusan yang salah ku pilih ini.
Hari-hari ku lalui dengan apa adanya, walaupun banyak tugas yang membuat
kepalaku serasa besar kebanyakan berpikir. Dalam Ilmu Komunikasi ada bebrapa
konsentrasi, tapi di kampusku hanya ada 3 konsentraasi yaitu: Jurnalistik,
Humas, dan Manajemen Komunikasi.
Jujur, tak satupun
dari ketiga konsentarsi itu ku minati. Tapi kemudian aku berpikir, konsentrasi
mana yang nantinyamemungkinkan aku kerja di kantor. Aku sudah ada pilihan, dan
aku memilih Humas. Seminggu kemudian aku berubah pikiran, karena Humas banyak
sekali umatnya, layaknya bison yang menuruni tebing untuk mencari air, aku
memutuskan untuk pindah kekonsentrasi jurnalistik.
Aku tahu, aku akan menghadapi masalah
besar, krena sesungguhnya dan sejujurnya aku tidak suka menulis. Aku lebih suka
ngotak ngatik laptop, bermain disitus, pokoknya didunia TI lah. Jurnalistik
sama sekali bukan duniaku, walaupu menurut zodiak aku cocok dibidang
jurnalistik.
Semester 3, awal aku bergelut dikonsentrasi
jurnalistik. Sejauh itu, aku masih merasa enjoy dan menerima dengan ikhlas krna
beban belum terlalu berat. Sekarang, aku sudah naik ke semester 4, aku merasa
semakin lama, jurnalistik semakin membuatku repot dan berpikir keras. Malah
sebagian dosen, menuntut orang jurnal harus bisa menulis dan tulisannya dimuat
di media cetak ataupun online. Hal ini membuat setengah gila. Aku berpikir dan
semakin berpikir keras, gimana caranyamenulis sesuatu sedangkan aku sulit untuk
menulis. Jujur saja, seketika kepalaku terasa sakit memikirkan hal itu.
Sempat terpikirkan oleh ku, aku tak sanggup
lagi melanjuti kuliah ku di jurnalistik, aku merasa Ilmu Komunikasi telah
menjebakku, dan membuat ku tersesat di dunia pers. Apa aku harus mengulang
kembali dengan jurusan yang ku minati (TI/Ilmu Komputer)? Tapi aku tak sanggup
lagi jika harus mengulang kuliah. Atau bertahan di jurnalistik dan menanggung
sgala resikonya??? Ini juga lebih-lebih membuat ku tak sanggup. Sekali lagi ku
tegaskan, “aku sulituntuk menulis”. Aku pengen secepatnya keluar dari
jurnalistik ini.
Ah... entahlah!! Aku gak tau apa yang harus
ku lakukan. Kuliah tinggal 2 tahun lagi, satu-satunya solusi yang ps untuk
keluar secepatnya dari jurnal adalah
belajar dengan giat. Walaupun dikelas aku pendiam dan sering ngantuk, paling
tidak IP tidak boleh turun di setiap semesternya. Dan juga harus didukung oleh
doa, berharap kuliah ini cepat selesai dengan cepat.
Usaha tanpa doa,
bagai sayur tanpa garam. Dan aku juga berharap, nantinya selesai kuliahaku bisa
bekerja di sebuah perusahaan, tapi bukan perusahaan pers.
-->
0 komentar:
Posting Komentar