Mencari Nafkah Dengan Gerobak Roti
Bekerja
tanpa kenal lelah itulah yang ada di benak pak Nasir berumur 48 tahun. Teriknya
sinar matahari tidak membuatnya lelah bekerja demi menafkahi keluarganya. Dia
memiliki tujuh orang anak, tetapi hanya lima orang anak yang masih jadi
tanggungannya, sedangkan anaknya yang lain sudah ada yang menikah. Pak Nasir
berasal dari keluarga yang sederhana, hidup serba pas-pasan. Walaupun begitu ia
tetap mensyukuri apa yang dimilikinya. sesekali terlintas dipikirannya mengapa
kehidupannya tak seperti orang lain yang serba berkecukupan dan tak harus
bekerja di bawah panasnya sinar matahari. Sebenarnya pak Nasir mempunyai
cita-cita yang tinggi, dia ingin menjadi seorang pengusaha. Namun, nasib belum
berpihak kepadanya, cita-citanya itu tak berhasil digapainya dikarenakan suatu
hal.
Sejak
dahulu, pak Nasir tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia bekerja serabutan demi
memberi nafkah keluarganya dan membiayai sekolah anaknya. Tapi, sekarang dia
bekerja sebagai penjual roti di pinggir jalan. Sudah sembilan bulan lamanya dia
bekerja sebagai penjual roti. Pak Nasir berjualan dibantu oleh istrinya, sesekali
anaknya yang masih kecil ikut dibawa berjualan juga. Terkadang bapak dari tujuh
orang anak ini menjual roti hanya sampai setengah hari saja , kemudian
digantikan oleh istrinya untuk menjualkan roti tersebut, sebab dia mencari
pekerjaan sampingan ditempat-tempat lain. Semua itu dilakukannya demi
keluarganya.
Setiap
pukul 09.00 WIB pagi, dia mendayung sepeda gerobak rotinya dari rumah sampai
ketempat biasa dia berjualan roti, dia berjualan hingga malam pukul 22.30 WIB. Biasanya
tak hanya satu lokasi yang dijadikan tempat mangkalnya, tetapi dia
berpindah-pindah ke tempat lainnya juga. Roti-roti yang dijual oleh pak Nasir
banyak yang laku, ada saja pembeli datang untuk membeli rotinya. Namun menurut
pengakuan pak Nasir, penghasilannya menjual roti tidaklah menentu. Jika
roti-rotinya banyak laku terjual maka upahnya lumayan banyak, sebaliknya jika
roti-roti itu hanya sedikit yang laku terjual maka upah yang didapatnya sedikit
pula.
Ayah
dari tujuh orang anak ini biasanya digaji perhari, dan dia hanya mengambil 15%
dari hasil penjualannya tersebut, sebab roti-roti yang dijualnya itu bukanlah
hasil produksinya sendiri, dia hanya menjualkan roti-roti itu saja. Bisa
dibilang, pak Nasir hanyalah seorang karyawan roti biasa. Dengan penghasilan
yang minim itulah, dia memenuhi kebutuhan sehari-harinya, memberi uang jajan
kepada anak-anaknya, dan membiayai ongkos sekolah anaknya.
Semangatnya
tak pernah surut untuk bekerja. Walaupun panas sangat terik dan terasa pedih
dikulit, dia tetap setia duduk dibawah pohon menanti pembeli datang untuk
membeli roti-rotinya. Tapi apabila hujan, pak Nasir tak bisa berjualan sebab
tak ada tenda ataupun tempat untuk berteduh, sedangkan jika panas sangat
menyengat ia hanya bisa duduk dibawah pohon cemara yang tak begitu rindang
untuk berlindung.
Menurut pria berumur 45 tahun bernama pak
Leman yang merupakan rekan kerjanya, pak Nasir sosok lelaki yang gigih bekerja dan
tak mudah putus semangat untuk mencari sesuap nasi. Dia tak malu bekerja apa
saja demi keluarganya, yang penting pekerjaan itu halal. Pak nasir juga
memiliki sikap yang ramah kepada pembelinya. Tak hanya dengan pembelinya dengan
semua orang juga dia ramah, penyabar, dan dia juga suka menolong.
Terkadang
roti-rotinya tak habis terjual semua, tapi dia tak merasa kecewa ataupun putus
asa, dia tetap sabar karena seperti itulah resikonya seorang pedagang tak
selamanya apa yang dijual bisa habis laku terjual dalam sehari. Jika beruntung
dalam sehari roti bisa habis terjual, dan jika tidak maka roti-roti tersebut akan
dijualnya esok harinya. Setiap makanan pasti ada masa berlakunya, begitu juga
dengan roti-roti yang dijual oleh pak Nasir. Apabila roti-rotinya sudah
mencapai tanggal kadaluarsa, dia tidak menjual lagi roti-roti tersebut, melainkan
membuangnya. Dia tak merasa rugi karena keselamatan pembeli atau konsumenlah
yang penting baginya.
Saya
bisa merasakan betapa kerasnya perjuangan seorang kepala rumah tangga yang
harus bekerja keras untuk menafkahi anggota keluarganya. Dimulai dari tak
memiliki pekerjaan tetap, hingga akhirnya dia menjadi seorang pedagang roti.
Tapi menjadi pedagang roti itupun belum bisa dikatakan sebagai pekerjaan
tetapnya, sebab dia juga mencari pekerjaan lain untuk tambahan biaya hidupnya. Kegigihan
dan semanngatnya itulah yang patut
dihargai, dan bisa dijadikan contoh untuk kehidupan kita.
Pak
Nasir menaruh harapan besar kepada anak-anaknya. Tak mengapa saat ini dia
banting tulang, bekerja siang malam demi menafkahi keluarganya, membiayai
sekolah anak-anaknya dan hidup serba pas-pasan. Kelak dikemudian hari,
anak-anaknya bisa menjadi orang yang sukses, membanggakan kedua orangtuanya,
dan dapat merubah garis kehidupan. Dia tak ingin kehidupan anak-anaknya nanti
seperti kehidupannya sekarang. Keinginan pak Nasir, salah satu dari anaknya
bisa menjadi pengusaha karena itu adalah cita-cita pak Nasir yang tertunda, dan
ia ingin anaknya yang meraih cita-cita tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar