Flashy Colorful Pink Yellow Green Star -->

Senin, 01 April 2013

feature

Diposting oleh Maya Hu di 05.05

Mencari Nafkah Dengan Gerobak Roti

Bekerja tanpa kenal lelah itulah yang ada di benak pak Nasir berumur 48 tahun. Teriknya sinar matahari tidak membuatnya lelah bekerja demi menafkahi keluarganya. Dia memiliki tujuh orang anak, tetapi hanya lima orang anak yang masih jadi tanggungannya, sedangkan anaknya yang lain sudah ada yang menikah. Pak Nasir berasal dari keluarga yang sederhana, hidup serba pas-pasan. Walaupun begitu ia tetap mensyukuri apa yang dimilikinya. sesekali terlintas dipikirannya mengapa kehidupannya tak seperti orang lain yang serba berkecukupan dan tak harus bekerja di bawah panasnya sinar matahari. Sebenarnya pak Nasir mempunyai cita-cita yang tinggi, dia ingin menjadi seorang pengusaha. Namun, nasib belum berpihak kepadanya, cita-citanya itu tak berhasil digapainya dikarenakan suatu hal.

Sejak dahulu, pak Nasir tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia bekerja serabutan demi memberi nafkah keluarganya dan membiayai sekolah anaknya. Tapi, sekarang dia bekerja sebagai penjual roti di pinggir jalan. Sudah sembilan bulan lamanya dia bekerja sebagai penjual roti. Pak Nasir berjualan dibantu oleh istrinya, sesekali anaknya yang masih kecil ikut dibawa berjualan juga. Terkadang bapak dari tujuh orang anak ini menjual roti hanya sampai setengah hari saja , kemudian digantikan oleh istrinya untuk menjualkan roti tersebut, sebab dia mencari pekerjaan sampingan ditempat-tempat lain. Semua itu dilakukannya demi keluarganya.

Setiap pukul 09.00 WIB pagi, dia mendayung sepeda gerobak rotinya dari rumah sampai ketempat biasa dia berjualan roti, dia berjualan hingga malam pukul 22.30 WIB. Biasanya tak hanya satu lokasi yang dijadikan tempat mangkalnya, tetapi dia berpindah-pindah ke tempat lainnya juga. Roti-roti yang dijual oleh pak Nasir banyak yang laku, ada saja pembeli datang untuk membeli rotinya. Namun menurut pengakuan pak Nasir, penghasilannya menjual roti tidaklah menentu. Jika roti-rotinya banyak laku terjual maka upahnya lumayan banyak, sebaliknya jika roti-roti itu hanya sedikit yang laku terjual maka upah yang didapatnya sedikit pula.

Ayah dari tujuh orang anak ini biasanya digaji perhari, dan dia hanya mengambil 15% dari hasil penjualannya tersebut, sebab roti-roti yang dijualnya itu bukanlah hasil produksinya sendiri, dia hanya menjualkan roti-roti itu saja. Bisa dibilang, pak Nasir hanyalah seorang karyawan roti biasa. Dengan penghasilan yang minim itulah, dia memenuhi kebutuhan sehari-harinya, memberi uang jajan kepada anak-anaknya, dan membiayai ongkos sekolah anaknya.

Semangatnya tak pernah surut untuk bekerja. Walaupun panas sangat terik dan terasa pedih dikulit, dia tetap setia duduk dibawah pohon menanti pembeli datang untuk membeli roti-rotinya. Tapi apabila hujan, pak Nasir tak bisa berjualan sebab tak ada tenda ataupun tempat untuk berteduh, sedangkan jika panas sangat menyengat ia hanya bisa duduk dibawah pohon cemara yang tak begitu rindang untuk berlindung.

 Menurut pria berumur 45 tahun bernama pak Leman yang merupakan rekan kerjanya, pak Nasir sosok lelaki yang gigih bekerja dan tak mudah putus semangat untuk mencari sesuap nasi. Dia tak malu bekerja apa saja demi keluarganya, yang penting pekerjaan itu halal. Pak nasir juga memiliki sikap yang ramah kepada pembelinya. Tak hanya dengan pembelinya dengan semua orang juga dia ramah, penyabar, dan  dia juga suka menolong.

Terkadang roti-rotinya tak habis terjual semua, tapi dia tak merasa kecewa ataupun putus asa, dia tetap sabar karena seperti itulah resikonya seorang pedagang tak selamanya apa yang dijual bisa habis laku terjual dalam sehari. Jika beruntung dalam sehari roti bisa habis terjual, dan jika tidak maka roti-roti tersebut akan dijualnya esok harinya. Setiap makanan pasti ada masa berlakunya, begitu juga dengan roti-roti yang dijual oleh pak Nasir. Apabila roti-rotinya sudah mencapai tanggal kadaluarsa, dia tidak menjual lagi roti-roti tersebut, melainkan membuangnya. Dia tak merasa rugi karena keselamatan pembeli atau konsumenlah yang penting baginya.

Saya bisa merasakan betapa kerasnya perjuangan seorang kepala rumah tangga yang harus bekerja keras untuk menafkahi anggota keluarganya. Dimulai dari tak memiliki pekerjaan tetap, hingga akhirnya dia menjadi seorang pedagang roti. Tapi menjadi pedagang roti itupun belum bisa dikatakan sebagai pekerjaan tetapnya, sebab dia juga mencari pekerjaan lain untuk tambahan biaya hidupnya. Kegigihan dan semanngatnya  itulah yang patut dihargai, dan bisa dijadikan contoh untuk kehidupan kita.

Pak Nasir menaruh harapan besar kepada anak-anaknya. Tak mengapa saat ini dia banting tulang, bekerja siang malam demi menafkahi keluarganya, membiayai sekolah anak-anaknya dan hidup serba pas-pasan. Kelak dikemudian hari, anak-anaknya bisa menjadi orang yang sukses, membanggakan kedua orangtuanya, dan dapat merubah garis kehidupan. Dia tak ingin kehidupan anak-anaknya nanti seperti kehidupannya sekarang. Keinginan pak Nasir, salah satu dari anaknya bisa menjadi pengusaha karena itu adalah cita-cita pak Nasir yang tertunda, dan ia ingin anaknya yang meraih cita-cita tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Big Dreams Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea