Flashy Colorful Pink Yellow Green Star -->

Sabtu, 23 November 2013

artikel komunikasi organisasi

Diposting oleh Maya Hu di 22.14 0 komentar


Masalah Dalam Komunikasi Organisasi
Oleh: Maya Husna (110240007)

Kata komunikasi organisasi acap kali berkumandang di telinga kita tapi kita belum tahu sesungguhnya makna dan fungsi dari komunikasi organisasi. Secara harfiah, komunikasi organisasi terdiri atas dua kata yaitu komunikasi dan organisasi.  Tidak ada kelompok yang dapat eksis tanpa komunikasi : pentransferan makna di antara anggota-anggotanya. Hanya lewat pentransferan makna dari satu orang ke orang lain informasi dan gagasan dapat dihantarkan. Tetapi komunikasi itu lebih dari sekedar menanamkan makna tetapi harus juga dipahami (Robbins, 2002 : 310).
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan organisasi didalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Dalam suatu organisasi sering kali permasalahan terjadi antar anggotanya. Dalam organisasi apapun dimana kita terlibat di dalamnya, pasti bakal berhadapan dengan masalah atau konflik. Semakin besar organisasi, semakin rumit pula keadaannya. Semua aspek, akan mengalami kompleksitas, baik alur informasi, pengambilan keputusan, pendelegasian wewenang, sumberdaya manusia dan sebagainya.
            Salah satu masalah yang sering timbul dalam suatu organisasi yaitu masalah etika. Masalah etika selalu timbul dalam situasi yang melibatkan orang lain, tetapi seringkali organisasi lebih banyak menyoroti masalah etika ini daripada pihak – pihak lainnya. Pelanggaran terhadap etika yang telah diterima secara umum merupakan masalah yang harus diwaspadai dalam organisasi. Masalah etika dalam organisasi dikelompokkan menjadi 2 bagian, seperti:
  • Mengenai praktik organisasi di tempat kerja
  • Mengenai keputusan perseorangan
         Ini akan terjadi apabila seseorang baik dari tingkat atasan atau bagian terpenting dalam suatu organisasi mengambil suatu keputusan yang sepihak tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu. Permasalahan yang akan timbul diantaranya ketidakpercayaan antar anggota didalam organisasi sehingga menimbulkan perpecahan dalam organisasi.
            Selain masalah etika, ada lagi masalah yang sering terjadi dalam suatu organisasi. Misalnya pada saat adanya rapat, sering terjadi para anggota rapat sibuk dengan urusannya sendiri, ada yang bermain handphone ataupun berbicara dengan salah satu anggota lainnya. Hal semacam ini menyebabkan terjadinya miss communication antar anggota rapat dengan pematerinya. Komunikasi yang tercipta dalam keadaan organisasi yang seperti ini tidaklah efektif.
Solusi dalam penanganan konflik maupun permasalahan dalam organisasi, bisa dengan:
  • Introspeksi diri
  • Mengevaluasi pihak yang terlibat
  • Identifikasi sumber masalah
  • Mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan memilih yang tepat.
Cara pemecahan masalah itu sendiri tergantung seberapa kreatifkah kita menyikapi masalah, dan bagaimana mengambil cara yang terbaik dalam memecahkan suatu masalah. Tapi, pilihan pertama yang diambil seringkali bukanlah solusi terbaik.  Secara tipikal, dalam pemecahan masalah, kebanyakan orang menerapkan solusi yang kurang dapat diterima atau kurang memuaskan, dibanding solusi yang optimal atau yang ideal (Whetten & Cameron, 2002). Pemecahan masalah yang tidak optimal ini, bukan tidak mungkin dapat memunculkan masalah baru yang lebih rumit dibandingkan dengan masalah awal.

           
           






                                                                                                    

Jumat, 01 November 2013

Esay!

Diposting oleh Maya Hu di 02.03 0 komentar

DUL
DUL, itulah nama yang tidak asing lagi di telinga kita, bahkan  selalu menghiasi media media cetak maupun elektronik. Nama itu beberapa waktu yang lalu sempat menghebohkan dunia peran orang tua dalam keluarga. Dan berita ini di ekspos secara bergelombang oleh media-media di seluruh Indonesia. Lalu timbul pertanyaan dalam benak sebagian masyarakat, siapa Dul ini? Namanya tiba-tiba muncul diberbagai media informasi nasional dan internasional, sehingga ia (Dul) menjadi trend topik yang tiba-tiba dapat mengalahkan kasus-kasus mega korupsi yang sudah menjadi rutinitas santapan pokok media massa Indonesia di era sekarang ini.
Dul, adalah nama panggilan dari seorang Abdul Qadir Jaelani (AQJ), anak ke 3 dari pasangan musisi terkenal Indonesia, yaitu Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Lalu kenapa nama Dul ini menjadi trend topic di berbagai media massa? Apakah ini ada hubungannya dengan perceraian Dhani dengan Maia? Jawabannya tentu tidak, karena yang menjadikan nama Dul menjadi hot news dalam beberapa pekan ini adalah kasus kecelakaan mobil di jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) yang merenggut 7 nyawa dan melukai beberapa orang lainnya. Lalu ada sebagian masyarakat hanya menganggap ini adalah kasus biasa yang sering terjadi di Indonesia, sebut saja kasus kecelakaan di Tugu Tani di awal tahun 2012 lalu yang merenggut 9 nyawa dan beberapa lainnya luka parah. Namun, kasus biasa ini menjadi luar biasa ketika masyarakat mengetahui fakta bahwa sang aktor  penyebab kecelakaan maut ini adalah seorang anak berusia 13 tahun.
Semua masyarakat pun kembali dikejutkan dengan suatu kenyataan yang luar biasa, bahwa seorang anak 13 tahun, sudah menyetir mobil di malam hari dan sah secara perizinan alias mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi). Kasus ini tidak hanya sebatas masalah umur dan izin mengemudi saja, karena pertanggung jawaban ini mutlak di kirimkan kepada sang penganggung jawab yaitu Ahmad Dhani, yang setelah perceraiannya dengan Maia, hak asuh anak dikuasai oleh Dhani, walaupun tanggung jawab moril ditanggung secara bersama- sama.
Media massa tidak hanya sebatas memberikan informasi, memaparkan kenyataan atau juga fakta, tapi juga media massa erat hubngannya dengan kontrol sosial dalam masyarakat. Bukankah kejadian Dul ini adalah salah satu bukti akan kelalaiannya peran orang tua dalam menjaga anaknya, bukankah fungsi keluarga proteksi dan sosialisasi adalah inti dalam keluarga. Kontrol sosial oleh media massa disini adalah peran dalam menjaga keaktifan fungsi keluarga secara menyeluruh dengan cara memaparkan dan menginformasikan dampak dari tidak efektifnya fungsi dalam keluarga, sehingga memberikan kesadaran bagi masyarakat secara umum untuk mampu memnjalankan fungsi keluarga secara menyeluruh.
Tragedi kecelakaan ini yang dilatar belakangi oleh disfungsinya peran orang tua dalam keluarga dapat dijadikan contoh dan bukti oleh masyarakat dengan perantara media- media, bisa kita bayangkan ketika media massa di kekang untuk mengekpos masalah ini, sungguh akan banyak lagi kisah “Back to Dul”l dan memakan jumlah korban yang lebih banyak tentunya. Setidaknya, dengan pemberitaan dari media massa ini, dapat mengurangi jumlah kecelakaan dan kembali bisa memupuk tingkat kesadaran orang tua terhadap anak-anaknya terutama dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga. Di zaman sekarang ini yang serba tergantung dengan teknologi, media massa seharusnya mampu menyusup hingga ke bagian unit terkecil dalam masyarakat, dan menghilangkan label bahwa media massa di Indonesia sekarang ini adalah media politik (walaupun ada beberapa media cetak dan elektronik yang sekarang ini dikuasai oleh elit-elit politik). Namun, hal ini setidaknya bisa diredam dengan pemberitaan-pemberitaan yang bisa menjadikan masyarakat sadar akan nilai- nilai dan norma- norma, bahkan ini hanya sebatas kasus Dul sekalipun.
 

Big Dreams Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea