95% orang tua di Indonesia memiliki ego
yang sangat tinggi. Keegoisan akan lebih sering muncul ketika seorang anak beranjak
ke usia remaja (18-23 tahun). Pendapat
Stanley Hall (Bapak Psiologi Remaja) bahwa masa remaja merupakan masa badai dan
tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Menurut
Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian
identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan
bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity
diffusion/confussion, moratorium,
foreclosure, dan identity
achieved (Santrock,
2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja
yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan
masalah pada diri remaja. (http://netsains.net/)
Banyak
perubahan-perubahan
yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan
remaja adalah penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang
meningkat, harapan yang tidak tercapai, teman sebaya, persahabatan, pacaran,
dan pergaulan menuju kebebasan. Beberapa konflik yang biasa terjadi antara
remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti
jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur, hingga masalah
cinta. Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan
mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak
memahami kepentingan remaja. (http://netsains.net/)
Pemberian nasihat atau
pendapat kepada anaknya tak jarang berakhir dengan konflik. Mengapa bisa
terjadi? Menurut pengamatan saya, dan pengalaman pribadi saya, pada umumnya
orang tua terutama seorang ibu selalu menganggap diri sekaligus pendapatnya
benar, dan tidak pernah salah. Bahkan ketika salah pun, mereka tidak merasa
bersalah, serta enggan untuk meminta maaf kepada sang anak. Ada satu kalimat
yang masi saya ingat, “orantua kasi
nasihat untuk anaknya untuk kebaikan anaknya, tak ada orang tua yang ingin
anaknya celaka.” Ini benar! Tapi
tetap saja tidak semua nasihat orangtua bisa ditelan mentah-mentah tanpa harus
dicerna, orang tua juga bisa saja salah dalam pendapatnya karna orangtua hanya
manusia bukan Tuhan.
Orang
tua sering memberi nasihat yang dianggapnya “baik” kepada sang anak. Namun,
nasihat tersebut belum tentu dapat diterima dengan baik, atau mungkin ditolak,
atau diprotes secara nyata oleh si anak. Dalam hal ini seharusnya orang tua
dapat berjiwa besar menrima penolakan pendapat dari si anak dan tak seharusnya diperdebatkan
hingga menimbulkan konflik. Yang namanya pendapat pastilah berbeda, apalagi
pendapat orang tua dan pendapat anaknya yang memasuki usia remaja.
Terlihat
difilm-film barat atau film-film luar negri lainnya, menggambarkan orang tua
disana dapat menjadi teman bagi si anak, dan selalu memberi kebebasan bagi
anaknya untuk berpendapat serta mengijinkan mengaplikasikan pendapat tersebut
kedalam kehidupannya. Beda sekali dengan kebiassaan orang Indonesia. Orang tua
di Indonesia lazimnya jarang memberi “kebebasan” bagi anaknya, baik itu
kebebasdan bergerak maupun kebebasan berpendapat. Bisa dibilang 9 dari 10 anak
di Indonesia mengalami penekanan batin akibat orang tuanya. Seorang anak secara
tidak langsung dipaksa untuk mengkuti keinginan orang tuanya dalam bertindak. Yang
lebih menggelikannya lagi, bahkan dalam berpakaian pun si anak dituntut untuk
mengikuti pilihan orangtuanya. Sungguh tertekan...
Umumnya
orang tua di Indonesia hanya bisa menjadi orangtua saja bagi anaknya, tanpa
bisa menjadi sahabat bagi anak-anak mereka karena memiliki sifat yang terlalu
egois. Mungkin menurut mereka tindakan seperti itu bagus untuk si anak, namun
pada kenyataannya belum tentu. Banyak sekali dampak yang akan ditimbulkan dari
situasi orang tua dan anak yang selalu bertentangan, diantaranya pertama:
jiwa anak akan tertekan karena harus mengikuti keinginan orangtuanya, kedua:
anak akan selalu merasa bersalah akan argumennya, ketiga: tidak ada
keterbukaan antara anak dan orang tua, keempat: akan ada tindakan yang
dilakukan anak diluar dugaan orang tuanya.
Memasuk
usia remaja akhir, sering terjadi konflik antara orangtua dan anak mengenai
permasalahan cinta atau mencari pasangan. Sangat sering terjadi di Indonesia,
orang tua melarang anaknya berpacaran dengan orang bertattoo, berbeda etnis,
berbeda agama, berbeda latar belakang sosialnya, atau yang lainnya. Sebenarnya orang
tua harus memahami juga, ketika memasuki usia remaja akhir si anak akan bebas
memilih sesuai dengan kehendaknya, dan orang tua seharusnya hanya sekedar
memberi pendapat saja layaknya seorang teman memberikan komentar, bukannya
melarang atau memaksa si anak mengikuti perkataan orang tuanya. Sudah saatnya
orang paham saat ini anaknya berada di level apa, harus bisa mengerti jika
seorang anak beranjak dewasa dia akan punya pemikirannya sendiri.
Untuk para orang tua, jadilah sahabat untuk
anak-anak anda, dengan begitu anda akan merasa lebih dekat dengan anak anda, dan
si anak akan lebih terbuka menganai masalah pribadinya. Tak semua anak mudah
menceritakan masalah pribadinya kepada orangtua, sahabat atau buku diary-lah
yang akan jadi tempat limpahan masalahnya. Untuk itu jadilah sahabatnya, dan
beri solusi yang logika untuk setiap masalahnya.
Maya Husna
Mahasiswa Ilmu Komunkasi Jurnalistik
Univ. Malikussaleh
-->
0 komentar:
Posting Komentar