Flashy Colorful Pink Yellow Green Star -->

Minggu, 11 Oktober 2015

KONFLIK ORANG TUA DAN REMAJA 18+

Diposting oleh Maya Hu di 12.57


 
95% orang tua di Indonesia memiliki ego yang sangat tinggi. Keegoisan akan lebih sering muncul ketika seorang anak beranjak ke usia remaja (18-23 tahun).  Pendapat Stanley Hall (Bapak Psiologi Remaja) bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. (http://netsains.net/)
            Banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan. Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur, hingga masalah cinta. Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja. (http://netsains.net/)
Pemberian nasihat atau pendapat kepada anaknya tak jarang berakhir dengan konflik. Mengapa bisa terjadi? Menurut pengamatan saya, dan pengalaman pribadi saya, pada umumnya orang tua terutama seorang ibu selalu menganggap diri sekaligus pendapatnya benar, dan tidak pernah salah. Bahkan ketika salah pun, mereka tidak merasa bersalah, serta enggan untuk meminta maaf kepada sang anak. Ada satu kalimat yang masi saya ingat, “orantua kasi nasihat untuk anaknya untuk kebaikan anaknya, tak ada orang tua yang ingin anaknya celaka.”  Ini benar! Tapi tetap saja tidak semua nasihat orangtua bisa ditelan mentah-mentah tanpa harus dicerna, orang tua juga bisa saja salah dalam pendapatnya karna orangtua hanya manusia bukan Tuhan.
Orang tua sering memberi nasihat yang dianggapnya “baik” kepada sang anak. Namun, nasihat tersebut belum tentu dapat diterima dengan baik, atau mungkin ditolak, atau diprotes secara nyata oleh si anak. Dalam hal ini seharusnya orang tua dapat berjiwa besar menrima penolakan pendapat dari si anak dan tak seharusnya diperdebatkan hingga menimbulkan konflik. Yang namanya pendapat pastilah berbeda, apalagi pendapat orang tua dan pendapat anaknya yang memasuki usia remaja.
Terlihat difilm-film barat atau film-film luar negri lainnya, menggambarkan orang tua disana dapat menjadi teman bagi si anak, dan selalu memberi kebebasan bagi anaknya untuk berpendapat serta mengijinkan mengaplikasikan pendapat tersebut kedalam kehidupannya. Beda sekali dengan kebiassaan orang Indonesia. Orang tua di Indonesia lazimnya jarang memberi “kebebasan” bagi anaknya, baik itu kebebasdan bergerak maupun kebebasan berpendapat. Bisa dibilang 9 dari 10 anak di Indonesia mengalami penekanan batin akibat orang tuanya. Seorang anak secara tidak langsung dipaksa untuk mengkuti keinginan orang tuanya dalam bertindak. Yang lebih menggelikannya lagi, bahkan dalam berpakaian pun si anak dituntut untuk mengikuti pilihan orangtuanya. Sungguh tertekan...
Umumnya orang tua di Indonesia hanya bisa menjadi orangtua saja bagi anaknya, tanpa bisa menjadi sahabat bagi anak-anak mereka karena memiliki sifat yang terlalu egois. Mungkin menurut mereka tindakan seperti itu bagus untuk si anak, namun pada kenyataannya belum tentu. Banyak sekali dampak yang akan ditimbulkan dari situasi orang tua dan anak yang selalu bertentangan, diantaranya pertama: jiwa anak akan tertekan karena harus mengikuti keinginan orangtuanya, kedua: anak akan selalu merasa bersalah akan argumennya, ketiga: tidak ada keterbukaan antara anak dan orang tua, keempat: akan ada tindakan yang dilakukan anak diluar dugaan orang tuanya.
Memasuk usia remaja akhir, sering terjadi konflik antara orangtua dan anak mengenai permasalahan cinta atau mencari pasangan. Sangat sering terjadi di Indonesia, orang tua melarang anaknya berpacaran dengan orang bertattoo, berbeda etnis, berbeda agama, berbeda latar belakang sosialnya, atau yang lainnya. Sebenarnya orang tua harus memahami juga, ketika memasuki usia remaja akhir si anak akan bebas memilih sesuai dengan kehendaknya, dan orang tua seharusnya hanya sekedar memberi pendapat saja layaknya seorang teman memberikan komentar, bukannya melarang atau memaksa si anak mengikuti perkataan orang tuanya. Sudah saatnya orang paham saat ini anaknya berada di level apa, harus bisa mengerti jika seorang anak beranjak dewasa dia akan punya pemikirannya sendiri.
 Untuk para orang tua, jadilah sahabat untuk anak-anak anda, dengan begitu anda akan merasa lebih dekat dengan anak anda, dan si anak akan lebih terbuka menganai masalah pribadinya. Tak semua anak mudah menceritakan masalah pribadinya kepada orangtua, sahabat atau buku diary-lah yang akan jadi tempat limpahan masalahnya. Untuk itu jadilah sahabatnya, dan beri solusi yang logika untuk setiap masalahnya. 

oleh: 
Maya Husna
Mahasiswa Ilmu Komunkasi Jurnalistik
Univ. Malikussaleh

0 komentar:

Posting Komentar

 

Big Dreams Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea