Rendahnya
Kualitas Pendidikan Di Aceh
Oleh: Maya Husna (110240007)
Ilmu Komunikasi-Jurnalistik
Pendidikan merupakan bekal seseorang
ataupun suatu kelompok untuk maju. Pendidikan tidak hanya sebatas pendidikan di
sekolah, tetapi juga melingkupi pendidikan di luar sekolah. Pendidikan formal
dan non-formal, pendidikan akademis dan non-akademis, pendidikan otak dan mental.
Indonesia adalah sebuah negara yang luas dan kaya akan sumber daya alam. Tidak
mudah membangun Indonesia dengan ribuan pulau dan jutaan penduduknya yang
sebagian besar masih rendah dalam tingkat pendidikan ataupun penghasilan.
Indonesia agaknya belum menjalankan
konsep pembangunan pendidikan yang dapat menumbuhkan dan memelihara rasa
memiliki warga negaranya yang beragam. Tak semua daerah atau provinsi di
Indonesia memiliki kualitas pendidikan yang tinggi. Dapat kita lihat di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang kualitas pendidikannya masih sangat
rendah dibandingkan daerah lain.
Sebenarnya dalam hal pendidikan, provinsi
ini mendapatkan status istimewa selain dari D.I. Yogyakarta. Namun perkembangan
yang ada tidak menunjukkan kesesuaian antara status yang diberikan dengan
kenyataannya. Pendidikan di Aceh dapat dikatakan terpuruk. Salah satu yang
menyebabkannya adalah konflik yang berkepanjangan dan penganaktirian dari RI,
dengan sekian ribu sekolah dan institusi pendidikan lainnya menjadi korban.
Pada Ujian Akhir Nasional 2005 ada ribuan siswa yang tidak lulus dan terpaksa
mengikuti ujian ulang.
Untuk sekarang ini, memang sudah
banyak sekolah-sekolah dan universitas yang didirikan di Aceh, tapi mutu pendidikannya
masih sangat tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain. Hal ini disebabkan
karena fasilitas yang kurang memadai dan pengetahuan guru yang kurang, sebab sekarang ini banyak
guru-guru yang lulus PNS secara tidak murni, bisa saja guru-guru sekarang ini
tingkat pendidikannya rendah. Dan jika dijadikan sebagai guru untuk
sekolah-sekolah di Aceh maka pendidikan di Aceh ini tetap jalan di tempat, tak
akan bisa maju ataupun meningkat kualitasnya.
Di daerah kota terlihat jelas bahwa
infrastruktur untuk sekolah-sekolah bahkan universitas sangat bagus, dan layak
untuk dijadikan tempat proses menuntut ilmu. Tapi salah satu daerah di
Lhokseumawe, Aceh Utara, khususnya di Desa Abeuk Reuling Kecamatan Sawang,
terdapat sebuah sekolah bernama MIS Darussalam yang keadaannya sangat
memprihatinkan. MIS Darussalam tak seperti sekolah-sekolah pada umumnya yang
berdindingkan tembok, beralasakan kramik, dan beratap bagus. Sekolah ini hanya
terbangun dari tepas-tepas dan lantai tanah. Sangat tak layak untuk sebuah sekolah
di era modern seperti saat ini.
MIS Darussalam juga hanya memiliki tiga ruang kelas,
lokasi sekolahnya juga sangat panas dan gersang. Guru-guru yang mengajar di MIS
Darussalam juga hanyalah guru sukarelawan, tak ada gaji yang diberikan kepada
guru-guru tersebut. Siswa MIS Darussalam juga tak begitu banyak. Walaupun
fasilitas sekolah mereka sangat kurang, dan seragam yang mereka pakai juga sangat sederhana, tapi itu tak
memutuskan semangat mereka untuk bersekolah dan mencari ilmu sebanyak mungkin.
Seharusnya Pemerintah bisa memberikan perhatian
khusus untuk sekolah-sekolah di pedalaman seperti MIS Darussalam. Padahal
menurut anggota DPR RI, asal Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh, menjelaskan kalau
anggaran dana Pemerintah untuk Aceh cukup besar. Aceh juga mendapatkan Dana
Otonomi Khusus (Otsus) sebesar 6.1 triliun dari APBN pada Tahun 2013. Dana
otonomi khusus ini dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan,
kesehatan dan ekonomi.
Tapi pada kenyataannya dana tersebut tidak berperan
untuk pembangunan pendidikan di daerah Aceh. Buktinya masih ada sekolah yang
prasarananya tidak layak, bahkan sangat memperihatinkan, yang tidak dapat
perhatian khusus dari Pemerintah untuk membangun sekolah tersebut menjadi sekolah
yang layak.
Jika dicermati, pasca Tsunami memang terjadi
pembangunan infrastruktur besar-besaran termasuk dalam bidang pendidikan yang
sangat baik dan bagus di Aceh. Namun hal itu, terkesan belum merata sampai ke
daerah terpencil. Masih banyak sekolah yang minim infrastruktur sehingga akses
ke sekolah itu sangat sulit dilalui.
Sekolah MIS Darussalam bisa menjadi contoh nyata
bagi Pemerintah, bahwa Aceh masih terpuruk dalam segi pendidikan. Seharusnya Pemerintah bisa
menggunakan dana dari APBN tersebut untuk membangun infrastruktur sekolah-sekolah
di daerah terpencil bukan hanya di daerah kota saja. Pembangunan infrastruktur
yang tidak merata ini juga bisa menyebabkan terpuruknya pendidikan di Aceh.
Kalau keadaan seperti ini dibiarkan, maka sampai kapan pun Aceh tetap pada
posisi tertinggal di bidang pendidikan.
Pemerintah harus menghargai
pendidikan, dan rakyat harus berprestasi dalam pendidikan. Pemerintah harus
menyalurkan 20% dari anggaran negara untuk pendidikan sebagai amanat
Undang-Undang Dasar, bahkan lebih bila mungkin. Pemerintah harus memberikan hak
rakyat untuk memproleh pendidikan dan itu adalah kewajiban negara untuk
memenuhinya.
Tak hanya dari Pemerintah saja, tapi
rakyat juga harus menunjukkan perannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan
di Aceh. Tiap individu harus menunjukkan bahwa mereka benar-benar memanfaatkan
pendidikan, dapat ditunjukkan melalui prestasi-prestasi yang diraih, misalnya
mengikuti pelombaan karya tulis illmiah tingkat nasional atau tingkat provinsi
dan memenangkannya. Hal itu bila dilakukan terus menerus maka, lama-kelamaan kualitas
pendidikan di Aceh ini dapat meningkat secara bertahap.
Meningkatkan kualitas pendidikan di suatu daerah memanglah bukan
hal yang mudah, ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi Pemerintah
khususnya daerah Aceh. Bukan hanya
meningkatkan mutu pendidikannya saja, tapi infrastrukturnya juga harus dibenahi
terutama untuk sekolah di daerah terpencil, karena jika prasarana sekolah
kurang memadai maka belajar tak akan nyaman.
Pemerintah Aceh harus berjuang secara maksimal untuk
membangun kualitas dunia pendidikan di Provins Aceh agar mampu menghasilkan
sumber daya manusia yang dapat mengemban peradaban Aceh pada masa yang akan
datang. Bagi masyarakatnya juga harus mendukung dan berperan dalam proses
meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh, dengan cara memanfaatkan pendidikan
tersebut sebaik mungkin.
-->

0 komentar:
Posting Komentar