Flashy Colorful Pink Yellow Green Star -->

Jumat, 14 Juni 2013

feature..

Diposting oleh Maya Hu di 04.06 1 komentar



Senja Di Pantai Ujong Blang


            Sinar matahari tak lagi secerah matahari saat siang, kini sinarnya berubah menjadi warna orange menandakan matahari akan menyembunyikan dirinya di sebelah barat. Angin semilir tetap berhembus di sekitaran pantai membuat udara yang tadinya hangat menjadi dingin, begitu juga dengan ombak pantainya tak pernah lelah untuk terus bergulung-gulung di pantai.
   Pasir-pasir halus yang memanjakan telapak kaki ketika pengunjung berjalan di atasnya, memberikan sensasi tersendiri. Membuat para pengunjung nyaman berjalan diatasnya tanpa alas kaki. Bebatuan yang tersusun acak di bibir pantai menjadi magnet tersendiri. Banyak pengunjung yang duduk di atas batu tersebut sembari menikmati belaian halus angin yang berpadu dengan hangatnya matahari sore. Sinar matahari yang jatuh ke air dibiaskan menjadi kilauan indah yang memikat mata. Silau namun indah dipandang.
Walaupun senja akan segera tiba, pengunjung pantai Ujong Blang masih saja terlihat ramai. Para pengunjung masih menikmati udara pantai dan seakan tak ingin beranjak pergi dari tempatnya. Seperti yang kita ketahui pantai Ujong Blang ini merupakan salah satu objek wisata yang sering dikunjungi oleh masyarakat khususnya masyarakat Lhokseumawe. Tapi jika hari libur, pengunjungnya tak hanya dari kota Lhokseumawe saja, dari luar daerah pun juga ada yang berwisata ke pantai Ujong Blang.
   Di sekitaran pantai dibangun pondok-pondok sederhana. Pondok ini disewakan kepada pengunjung. Apabila ingin menikmati suasana pantai tanpa harus merasakan teriknya panas matahari yang menggelapkan kulit, berada dalam pondok ini adalah pilihan yang tepat. Pantai ini indah, tapi terkadang kita lupa untuk melestarikannya. Tak sedikit sampah-sampah yang mengonggok bebas di sekitar pantai ini. Mengganggu mata menikmati keindahan alam yang sudah diciptakan Tuhan.
Desiran ombak yang bergulung-gulung menambah ramainya suasana pantai. Para pengunjung menikmati indahnya suasana pantai di penghujung sore. Semakin sore, semakin terlihat indah pula panorama pantai,  ditambah lagi pemandangan langitnya yang juga terlihat indah membuat para pengunjung tak ingin pergi meninggalkan pantai dan ingin menyaksikan matahari terbenam.
Seperti yang dipaparkan oleh Sari (22), salah seorang pengunjung dari Takengon yang sedang menghabiskan waktu weekend-nya di pantai Ujong Blang, dia mengaku sengaja berlama-lama di pantai, karena ingin menikmati matahari terbenam atau yang sering kita sebut senja di pantai Ujong Blang ini. Selain itu, dia juga ingin memotret panorama senja di pantai ini.
Telihat di ufuk barat secara perlahan matahari mulai menyembunyikan dirinya, tak ingin menampakkan sinarnya lagi. Senja pun mulai tampak  di ujung pantai. Kini sebelah sisi menjadi terang, dan sisi yang lain menjadi gelap. Satu-persatu pengunjung pergi meninggalkan pantai, karena senja akan segera berganti menjadi malam. Walaupu begitu ombak tetap setia menghiasi pantai, meski senja akan segera berganti malam. Itulah senja di pantai Ujong Blang.

artikel kom-pembangunan

Diposting oleh Maya Hu di 03.23 0 komentar
Rendahnya Kualitas Pendidikan Di Aceh
Oleh: Maya Husna (110240007)
Ilmu Komunikasi-Jurnalistik



            Pendidikan merupakan bekal seseorang ataupun suatu kelompok untuk maju. Pendidikan tidak hanya sebatas pendidikan di sekolah, tetapi juga melingkupi pendidikan di luar sekolah. Pendidikan formal dan non-formal, pendidikan akademis dan non-akademis, pendidikan otak dan mental. Indonesia adalah sebuah negara yang luas dan kaya akan sumber daya alam. Tidak mudah membangun Indonesia dengan ribuan pulau dan jutaan penduduknya yang sebagian besar masih rendah dalam tingkat pendidikan ataupun penghasilan.
            Indonesia agaknya belum menjalankan konsep pembangunan pendidikan yang dapat menumbuhkan dan memelihara rasa memiliki warga negaranya yang beragam. Tak semua daerah atau provinsi di Indonesia memiliki kualitas pendidikan yang tinggi. Dapat kita lihat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang kualitas pendidikannya masih sangat rendah dibandingkan daerah lain.
            Sebenarnya dalam hal pendidikan, provinsi ini mendapatkan status istimewa selain dari D.I. Yogyakarta. Namun perkembangan yang ada tidak menunjukkan kesesuaian antara status yang diberikan dengan kenyataannya. Pendidikan di Aceh dapat dikatakan terpuruk. Salah satu yang menyebabkannya adalah konflik yang berkepanjangan dan penganaktirian dari RI, dengan sekian ribu sekolah dan institusi pendidikan lainnya menjadi korban. Pada Ujian Akhir Nasional 2005 ada ribuan siswa yang tidak lulus dan terpaksa mengikuti ujian ulang.
            Untuk sekarang ini, memang sudah banyak sekolah-sekolah dan universitas yang didirikan di Aceh, tapi mutu pendidikannya masih sangat tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain. Hal ini disebabkan karena fasilitas yang kurang memadai dan pengetahuan guru  yang kurang, sebab sekarang ini banyak guru-guru yang lulus PNS secara tidak murni, bisa saja guru-guru sekarang ini tingkat pendidikannya rendah. Dan jika dijadikan sebagai guru untuk sekolah-sekolah di Aceh maka pendidikan di Aceh ini tetap jalan di tempat, tak akan bisa maju ataupun meningkat kualitasnya.
            Di daerah kota terlihat jelas bahwa infrastruktur untuk sekolah-sekolah bahkan universitas sangat bagus, dan layak untuk dijadikan tempat proses menuntut ilmu. Tapi salah satu daerah di Lhokseumawe, Aceh Utara, khususnya di Desa Abeuk Reuling Kecamatan Sawang, terdapat sebuah sekolah bernama MIS Darussalam yang keadaannya sangat memprihatinkan. MIS Darussalam tak seperti sekolah-sekolah pada umumnya yang berdindingkan tembok, beralasakan kramik, dan beratap bagus. Sekolah ini hanya terbangun dari tepas-tepas dan lantai tanah. Sangat tak layak untuk sebuah sekolah di era modern seperti saat ini.
MIS Darussalam juga hanya memiliki tiga ruang kelas, lokasi sekolahnya juga sangat panas dan gersang. Guru-guru yang mengajar di MIS Darussalam juga hanyalah guru sukarelawan, tak ada gaji yang diberikan kepada guru-guru tersebut. Siswa MIS Darussalam juga tak begitu banyak. Walaupun fasilitas sekolah mereka sangat kurang, dan seragam yang mereka pakai  juga sangat sederhana, tapi itu tak memutuskan semangat mereka untuk bersekolah dan mencari ilmu sebanyak mungkin.
Seharusnya Pemerintah bisa memberikan perhatian khusus untuk sekolah-sekolah di pedalaman seperti MIS Darussalam. Padahal menurut anggota DPR RI, asal Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh, menjelaskan kalau anggaran dana Pemerintah untuk Aceh cukup besar. Aceh juga mendapatkan Dana Otonomi Khusus (Otsus) sebesar 6.1 triliun dari APBN pada Tahun 2013. Dana otonomi khusus ini dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Tapi pada kenyataannya dana tersebut tidak berperan untuk pembangunan pendidikan di daerah Aceh. Buktinya masih ada sekolah yang prasarananya tidak layak, bahkan sangat memperihatinkan, yang tidak dapat perhatian khusus dari Pemerintah untuk membangun sekolah tersebut menjadi sekolah yang layak.
Jika dicermati, pasca Tsunami memang terjadi pembangunan infrastruktur besar-besaran termasuk dalam bidang pendidikan yang sangat baik dan bagus di Aceh. Namun hal itu, terkesan belum merata sampai ke daerah terpencil. Masih banyak sekolah yang minim infrastruktur sehingga akses ke sekolah itu sangat sulit dilalui.
Sekolah MIS Darussalam bisa menjadi contoh nyata bagi Pemerintah, bahwa Aceh masih terpuruk dalam  segi pendidikan. Seharusnya Pemerintah bisa menggunakan dana dari APBN tersebut untuk membangun infrastruktur sekolah-sekolah di daerah terpencil bukan hanya di daerah kota saja. Pembangunan infrastruktur yang tidak merata ini juga bisa menyebabkan terpuruknya pendidikan di Aceh. Kalau keadaan seperti ini dibiarkan, maka sampai kapan pun Aceh tetap pada posisi tertinggal di bidang pendidikan.
            Pemerintah harus menghargai pendidikan, dan rakyat harus berprestasi dalam pendidikan. Pemerintah harus menyalurkan 20% dari anggaran negara untuk pendidikan sebagai amanat Undang-Undang Dasar, bahkan lebih bila mungkin. Pemerintah harus memberikan hak rakyat untuk memproleh pendidikan dan itu adalah kewajiban negara untuk memenuhinya.
            Tak hanya dari Pemerintah saja, tapi rakyat juga harus menunjukkan perannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh. Tiap individu harus menunjukkan bahwa mereka benar-benar memanfaatkan pendidikan, dapat ditunjukkan melalui prestasi-prestasi yang diraih, misalnya mengikuti pelombaan karya tulis illmiah tingkat nasional atau tingkat provinsi dan memenangkannya. Hal itu bila dilakukan terus menerus maka, lama-kelamaan kualitas pendidikan di Aceh ini dapat meningkat secara bertahap.
            Meningkatkan kualitas  pendidikan di suatu daerah memanglah bukan hal yang mudah, ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi Pemerintah khususnya daerah Aceh.  Bukan hanya meningkatkan mutu pendidikannya saja, tapi infrastrukturnya juga harus dibenahi terutama untuk sekolah di daerah terpencil, karena jika prasarana sekolah kurang memadai maka belajar tak akan nyaman.
Pemerintah Aceh harus berjuang secara maksimal untuk membangun kualitas dunia pendidikan di Provins Aceh agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang dapat mengemban peradaban Aceh pada masa yang akan datang. Bagi masyarakatnya juga harus mendukung dan berperan dalam proses meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh, dengan cara memanfaatkan pendidikan tersebut sebaik mungkin.
 

Big Dreams Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea