SEKILAS TENTANGKU
Sejak
aku menginjakkan kaki di SMA, aku sudah mempunyai keinginan untuk berkuliah di
universitas favoritku, Universitas Sumatra Utara. Ketika aku kelas XII, aku
mengikuti SNMPTN jalur undangan yang diselenggarakan oleh sekolah. Dan aku
memilih universitas yang ku impi—impikan , USU dan pilihan kedua UNIMAL ( hanya
sebagai batu loncatan saja).
Waktu terasa cepat
berlalu, hari ini adalah hari dimana pengumuman kelulusan di umumkan. Dan
hasilnya..... aku lulus dengan hasil yang memuaskan. Hari ini, bukan hanya hari
kelulusan sekolah, tapi juga hari dimana memasuki kehidupan yang sebenarnya...
***
18 mei 2011, hari ini pengumuman SNMPTN
undangan akan diumumkan secara online. Pada saat itu aku sedang berlibur di
rumah saudara ku di Medan. Karena hari
sudah malam, dan kebetulan rumahnya agak jauh dari warnet, jadi aku harus
menunda sampai besok pagi untuk melihat pengumumannya. Keesokkan paginya, aku
langsung ke warnet untuk melihat pengumumannya. Hasilnya aku LULUS, tapi di
UNIMAL. Seketika perasaan senangku berubah menjadi kecewa, dan sedih. Kenapa
aku enggak di terima di universitas yang ku idam-idamkan?
Sempat
ku berpikir aku tak mau melanjutkan ke perguruan tinggi, aku ingin bekerja
saja. Tapi di satu sisi aku belum pecaya diri untuk bekerja, aku belum siap
mental.
Kabar bahwa aku lulus SNMPTN, sudah
sampai ke telinga orang tua ku. Ibu ku sangat bangga, dan senang, begitu juga
dengan ayah tiri ku. Mereka sepakat buat membiayai kuliah ku. Tapi aku
berontak, aku tak mau kalau harus kuliah di universitas yang tidak ku inginkan, apalagi lokasi kampusnya berada
di Aceh. Saat itu aku benar-benar terpukul, dan tak tahu harus berbuat apa. Aku
benar-benar down. Aku tetap kukuh pada pendirianku yang tak mau kuliah di
universitas itu. Segala hal ku lakukan agar aku di kasih untuk ikut ujian
SNMPTN tertulis, di mulai dari mogok makan, merajuk berkepanjangan, dan aku tak
bicara dengan orang-orang di rumahku. Tapi hal itu juga tidak membuat ibuku
memberi ku izin mengikuti ujian SNMPTN tertulis.
31 Mei 2011, seharusnya ditanggal
itu aku ikut ujian SNMPTN tertulis di gedung Satra USU, tapi kenyataannya
ditanggal itu aku dibawa nyokap ku ke Aceh untuk daftar ulang. Pastinya aku
merasa kesal, amat sangat kesal. Sampai aku tak sadar, aku meneteskan air mata
ketika dalam perjalanan ke Aceh. Bahkan sampai di sana pun, ketika proses
daftar ulang aku kembali menangis karena memang aku tak mau kuliah di kota
gersang dan penuh peraturan yang membuatku muak. Aku tak peduli dengan
orang-orang di sekitar tempat pendaftaran ulang melihatku menangis. Aku tak
kenal mereka, dan mereka tak kenal aku. So, aku gag peduli.
Hal yang membuatku risih ketika
masuk ke kota asing ini yaitu, masyarakatnya yang begitu kampungan dan udik.
Kenapa?? Gaya ku memang berbeda dengan orang sini, dan orang-orang disini
melihatku seperti tak pernah liat manusia. Sungguh membuat ku ingin tertawa,
menertawakan mereka maksudnya.
Kali
ini aku tak bisa mengelak lagi. Aku benar-benar akan kuliah di Unimal, karena
akting ku tak berhasil.
***
Hari ini ospek pertama ku.
Benar-benar hari yang membosankan. Pertama kalinya aku pakai rok panjang dan
jilbab, sungguh membuatku repot. Style ku pastinya berbeda dengan yang lain,
rok itam yang gantung ku pakai di pinggul, kemeja putih yang ketat, dan bajunya
ku masukkan ke dalam rok agar terlihat rapi, serta sepatu itam yang sedikit
mentel.
Tapi,
hari ke sekian ospek aku di tegur ama mentor udik soal baju yang ku pakai.
Dibilangnya, “rapi gag harus baju dimasukin kedalamlah, bergaya kalilah
dibilangnya aku, roknya di pinggul”, sumpah ngenes kali aku di ceramahin dia.
Memang gag ngerti gaya, n gag ngerti gimana yang dikatakan rapi. Di kota ku
sana, kalo mau rapi ya bajunya harus dimasukkan kedalam. Tapi kalo disini ya
gag taulah, selalu bertentangan dengan hukum agama sepertinya. Sampai sekarang aku benci liat kakak yang
protes aku, untung tak pernah nampak lagi muka dia di kampus.
Aku seperti merasa terasing disini.
Selalu menggunakan bahasa Aceh kalau ngomong, aku yang ada di dekat mereka jadi
merasa seperti mereka sedang membicarakan ku, walaupun sebenarnya enggak. Dan
aku yakin, bukan aku saja yang merasakan seperti itu, mahasiswa lain yang
datang dari luar kota pun akan merasakan apa yang ku rasa jika mereka berada di
posisiku.
Aku merasa tertekan batin tinggal
disini. Aku tak betah. Apalagi disini sering terjadi gempa, dan dulu pernah
konflik, hal-hal semacam itu buat aku merasa terancam tinggal disini. Aku rasa
tempat ini penuh tantangan yang bisa membahayakan jiwa. Suasana disini juga
terkadang terasa mencekam. Aku pengen banget secepatnya keluar dari tempat ini.
Tapi, gag tau gimana caranya. Aku udah bicarakan soal aku mintak pindah kuliah
sama orang tua ku. Orang tua ku setuju aku pindah kuliah ke Medan, tapi
salahnya gag ada yang bisa bantu buat aku pindah kampus.
***
Sudah hampir dua tahun aku berusaha
bertahan disini, kuliah ku udah tingkat empat. Tapi tetap aku tak betah disini.
Setiap hari aku ingin pulang ke Medan. Aku tak terbiasa hidup dengan penuh
peraturan seperti di tempat ini. Aku terbiasa bebas. Dan disini, tak seperti di
kota tempat asal ku. Sangat jauh berbeda, bahkan masyarakatnya pun sangat
berbeda. Aku tak mau bercerita banyak tentang masyarakat sini, cukup aku saja
yang tahu karena aku bisa nilai sendiri gimana orang-orang disini.
Setiap harinya aku selalu buat
diriku senang dengan caraku sendiri. Apapun ku lakukan biar aku bisa betah
disini. Tapi ternyata, hasilnya NIHIL. Dulu saudara ku pernah bilang gini sama
ku, “kalau nanti udah punya banyak temen pasti betah disini. Apalagi kalau udah
punya pacar, pasti gag ingat pulang ke Medan”. Faktanya, temenku banyak disini,
pacarku juga ada sekampus sama ku, tapi aku tetap ingin pulang ke Medan. Aku
gag betah tinggal di sini, aku gag cocok tinggal di sini, kota ini bukan tempat
ku.
Di sini, di tempat ini gag da zatnya, tak ada
hiburan. Setiap haripun aku boring disini, layaknya penjara bagi ku. Aku bisa
keluar dari sini, jika kuliah ku sudah selesai. Mirip kan kaiak orang di
penjara, narapidana bisa keluar dari
penjara kalau masa hukumannya udah selesai.
Kuliahku tinggal dua tahun lagi lah
bisa dibilang. Tapi terasa seperti dua abad lagi. Tingkat kebosanan ku tinggal
di sini udah mencapai nirwana. Entahlah,
rasanya aku udah gag sanggup lagi tinggal di sini. Tapi tak mungkin juga ku
tinggalkan begitu saja kuliahku, aku gak mau ngecewain orang tua ku. Ini beban
berat bagi hidup ku.. aku berharap ada seseorang yang mau bantu aku pindah
kuliah, itu saja. Karena dengan begitu aku bisa keluar dari kota ini dengan
cepat, dan tetap kuliah.
-->